Posted by: midris on: November 22, 2008
Obat yang diresepkan dr. Harold Elrick, seorang dokter umum senior di California, USA, mungkin tak dapat ditemui di apotik dan mungkin juga tak terlalu mudah untuk ditelan bulat-bulat. Sebenarnya, apa sih yang diresepkan dr. Elrick kepada pasien-pasiennya?
Sederhana saja, dr. Elrick menyarankan banyak pasiennya untuk bangun dan bergerak (beraktivitas). Dr. Elrick, kini 81 tahun, dokter tertua yang masih berpraktek di California
dan masih sering berlari maraton, telah mulai mempelajari kekuatan olahraga untuk mencegah dan membantu proses penyembuhan penyakit sejak tahun 1950-an, jauh sebelum jogging dan berolah raga di pusat kebugaran menjadi populer.
Dewasa ini, telah banyak riset yang membuktikan hipotesanya dan sejumlah peneliti lain masih terus mencoba menemukan manfaat lain dari olah raga selain untuk menjaga bentuk tubuh dan mencegah kegemukan. “Olah raga diindikasikan untuk sejumlah keadaan tertentu, seperti halnya obat-obatan,” ujarnya. “Dan hebatnya lagi, olahraga memiliki lebih sedikit efek samping dibanding jenis pengobatan lainnya.”
Pilih Naik Tangga
Makanan Berserat Mengurangi Risiko Kanker Usus
Bukti-bukti medis tampaknya mampu menguatkan pendapat ini. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 12 persen angka kematian di AS disumbangkan oleh kurangnya aktivitas, begitu menurut laporan Asosiasi Jantung Amerika. Kurangnya aktivitas ini dikaitkan dengan meningkatnya resiko terserang berbagai penyakit, termasuk diabetes, kanker payudara dan usus besar, tekanan darah tinggi, stroke dan serangan jantung. Dan olah raga teratur sebenarnya mampu mencegah hal ini dan juga sejumlah kondisi lain, seperti sakit sendi(artritis) dan depresi.
1. Penyakit Jantung. Olahraga dapat memperkuat otot dalam tubuh anda yang bekeja paling keras, jantung. Olahraga teratur yang memacu tubuh anda mencapai detak jantung optimal—60 sampai 70 persen dari detak jantung maksimal—dapat membuat jantung anda berdetak secara lebih efisien, memperkuat pembuluh arteri dan melancarkan sirkualsi darah (untuk menghitung target detak jantung anda, kurangi umur anda dari 220, kemudian kalikan dengan 0,7 ). Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur mampu mengurangi resiko terkena penyakit jantung sebanyak 50 persen, menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol total dan meningkatkan kadar HDL, si ‘kolesterol baik’ yang membantu menyingkirkan LDL, si ‘kolesterol jahat’ dari arteri anda.
Sebuah penelitian yang dilakukan tahun 1996 di University of Washington, Seattle, juga menunjukkan bahwa olahraga teratur menyebabkan perubahan kimia pada darah yang dapat membantu melindungi dari serangan jantung. Tapi harus diingat, bila anda telah menderita penyakit jantung, anda harus lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas fisik—jangan melakukan aktivitas yang berat-berat, karena otot jantung anda sudah tak sekuat normal lagi. Oleh karena itu, lebih baik mencegah sebelum terlambat bukan ?
Mengendalikan berat badan. Peraturannya sederhana saja: untuk mengurangi berat badan, anda harus membakar lebih banyak kalori daripada yang anda konsumsi. Dan aktivitas apakah yang mampu membakar kalori? Tentunya aktivitas fisik. Selain itu, olahraga teratur juga menurunkan selera makan dan meningkatkan metabolisme, sehingga tubuh anda akan membakar kalori secara lebih efisien. Digabung dengan manfaat lainnya yaitu meningkatkan tonus dan kepadatan otot, olahraga menjadi kunci sukses program penurunan berat badan manapun. Penurunan berat badan memiliki konsekuensi medis yang cukup penting, mengingat kegemukan merupakan faktor resiko bagi sejumlah penyakit seperti penyakit jantung, diabetes dan kanker.
3. Artritis. Rasa nyeri, peradangan dan kekakuan sendi yang biasa terdapat pada artiritis dapat dikurangi secara signifikan dengan aktivitas fisik, yang meningkatkan suplai darah ke otot, meningkatkan fleksibilitas sendi, dan memacu kekuatan otot, tendon dan ligamen.
4. Depresi dan gangguan mood. Penelitian menunjukkan bahwa pada kasus-kasus tertentu, aktivitas fisik saja mampu mengurangi gejala klinis depresi dan rasa cemas. Pada sebuah penelitian baru-baru ini dengan subyek 156 pria dan wanita berusia diatas 50 tahun yang secara klinis dinyatakan menderita depresi, yang diterbitkan tanggal 25 Oktober 1999 di Archives of Internal Medicine, ditemukan bahwa olahraga dapat memperbaiki mood setelah 16 minggu bersama dengan pemberian obat antidepresan. Para ahli percaya bahwa olahraga aerobik memicu pelepasan endorfin dan zat-zat kimia pada otak lainnya yang mempu memperbaiki mood dan mengurangi rasa sakit.
Tentunya masih banyak kondisi atau penyakit lain yang dapat diatasi atau dicegah dengan olahraga sedang secara teratur—yang didefinisikan oleh sang dokter bedah sebagai aktivitas apapun yang mampu membakar 150 kalori sehari, atau 1000 kalori seminggu. Hal ini kira-kira sebesar apa yang dibakar seorang dengan bobot 75 kilogram yang membersihkan rumah atau mencuci mobil selama terus-menerus selama 30-45 menit, 15 menit menggali tanah atau 20 menit berjalan cepat.
Meski demikian, tetap saja kesadaran akan hal ini masih rendah. Di AS saja, hanya 22 persen yang cukup berolahraga untuk mempertahankan jantungnya agar tetap sehat, begitu menurut laporan Asosiasi Jantung Amerika. Sedangkan 54 persen dari mereka enggan beraktivitas sama sekali. Dr. Elrick tampaknya tak dapat memahami mengapa masyarakat lebih suka berada dalam batas rata-rata bila menyangkut masalah kesehatan, sementara amat kompetitif di aspek yang
lain. “Itulah filosofi kebudayaan modern,” ujarnya. “Misalnya di bidang olahraga (prestasi). Dalam olahraga, orang saling berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, untuk menang. Hanya di bidang kesehatan saja tampaknya orang lebih suka menjadi ‘yang sedang-sedang saja’ atau berada dalam batas rata-rata.”
your comment