Home » hukum » artis jadi caleg

artis jadi caleg

sruput teh hangat

kawan yg baik. blog ini di dedikasikan buat warga legok permai. sebagai proses komunikasi dan informasi jadilah kontributor blog ini jabat hati

Like This

Caleg Artis Jangan Semata Demi Menuai Suara
[11/8/08]

Artis bagaimanapun juga warga negara yang memiliki hak untuk memilih dan dipilih, namun begitu berpredikat artis bukan berarti asal maju tanpa seleksi.

Walaupun mungkin diimpikan masyarakat, keberhasilan Rano Karno beserta pasangannya menjadi Wakil Bupati dan Bupati Tangerang tentunya cukup mencengangkan sejumlah kalangan. Hasil serupa berulang di Tanah Pasundan. Kali ini levelnya lebih tinggi, tingkat provinsi. Dede Yusuf, artis era 90-an, berhasil menduduki Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2008-2013. Setelah itu, bak wabah penyakit, muncul nama-nama seperti Primus Yustisio, Syaiful Jamil, atau bahkan pedangdut Dewi Persik yang kabarnya akan mengikuti jejak keberhasilan Rano dan Dede.

Artis terjun ke kancah politik sebenarnya bukan cerita anyar. Di era sebelumnya, artis-artis seperti Marissa Haque, almarhum Sophan Sophian, pelawak Komar, dan Adjie Massaid sudah mencoba peruntungan mereka. Baru-baru ini, fenomena sama juga mewabah pada ajang calon legislatif (caleg). Nama-nama beken seperti Wanda Hamidah, Evi Tamala, atau Nurul Arifin mulai dipinang oleh partai politik. Uniknya, sebagian artis yang banting stir ke politik diuntungkan oleh popularitas mereka sehingga jalan yang ditempuh pun terbilang instan.

Dalam sebuah acara diskusi, Nurul Arifin mengkritik maraknya caleg artis yang tidak didahului oleh proses seleksi. Nurul mengakui partai tengah diterpa krisis kader untuk dimajukan sebagai caleg. Namun, krisis bukan berarti diobral begitu saja. Perekrutan artis, menurutnya, harus dilakukan dengan seleksi yang ketat sebagaimana berlaku juga bagi caleg dari non artis. Nurul tegas menentang adanya perlakuan istimewa terhadap artis.

“Partai harus melakukan transformasi dulu, jadi untuk artis yang ingin menjadi caleg harus diberikan kepadanya pendidikan politik agar artis tersebut siap dalam wacana politik nantinya,” ujar artis yang terkenal berkat aktingnya dalam film Nagabonar itu.

Nurul juga berharap partai mempertimbangkan minat dan keseriusan artis yang bersangkutan. Dua hal ini, menurut Nurul, penting untuk mengukur konsistensi mereka. “Tapi jika orang yang tidak mempunyai minat, akhirnya mereka akan mundur dengan sendirinya dan tidak semua artis bisa disamaratakan,” tandasnya.

Terlepas dari proses seleksi, Nurul mengakui keberadaan artis memang memiliki keunggulan dalam hal sosialisasi. Artis diyakini mampu mendongkrak popularitas partai. Sosialisasi menggunakan artis bahkan dipandang ekonomis dari segi biaya. Dengan merekrut artis, lanjut Nurul, partai akan memperoleh kader sekaligus “alat promosi” gratis.

Direktur Eksekutif Centre for Electoral Reform (CETRO) Hadar Gumay berpendapat, fenomena artis jadi caleg merupakan cermin kegagalan partai dalam melakukan kaderisasi. Hadar berharap partai jangan berpikiran pragmatis semata. Demi menuai dukungan suara yang banyak, lalu merekrut selebritis.

Sementara, politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) Abdillah Toha mengatakan artis, pelawak, atau siapa saja adalah warga negara Indonesia yang mempunyai hak politik. Mereka berhak untuk dipilih dan memilih. Untuk itu, Abdillah berharap masyarakat dalam ajang pemilu nanti dapat melihat caleg secara objektif, bukan semata latar belakangnya. “Kita tidak perlu mengkotak-kotakkan mereka, tua, muda, artis, maupun bukan artis, semua sama,” tegasnya.

Abdillah menambahkan, bagi partainya kualitas caleg tetap nomor satu. PAN tidak akan menerima sembarang orang. Salah satu patokan rekrutmen partainya, menurut Abdillah, apakah yang bersangkutan sejalan dengan platform yang diusung PAN. “PAN sendiri tidak menerima orang yang cacat hukum, orang-orang yang menurut kita track record-nya kurang baik dimasa lalu, serta orang-orang yang aspirasinya tidak sejalan dengan PAN,” ujar Anggota Komisi I DPR ini.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Agus Purnomo mengatakan siapa saja sebenarnya dapat menjadi caleg. Namun, untuk PKS, caleg harus memenuhi tiga kualifikasi yang disesuaikan dengan fungsi DPR, yakni di bidang legislasi, anggaran, dan pengawasan. “Selama mereka memenuhi tiga kualifikasi itu, saya yakin mereka bisa bertahan di pekerjaannya sebagai wakil rakyat,” ujar Agus.

Partai memang harus menjalankan seleksi ketat terhadap caleg artis, jika tidak gedung parlemen bisa jadi bak layar kaca yang dipenuhi oleh artis yang pandai berakting.


1 Comment

  1. d4nk says:

    artis menjadi eksekutif maupun legislatif mempunyai hak, namun kalau segala sesuatu dipolitisir pusing ………………. tujuh keliling……………

    hhiihihiih……………soal artis mendadak caleg erat kaitannya dg konsep baru voting suara terbanyak dan tidak lagi gunakan sistem nomor urut…..para partai pun cerdik lihat celah ini makanya para artis siap jadikan gedung DPR bagaikan sinetron……….hihiihih……
    hidup artis indonesia…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Data Arsip

%d bloggers like this: