Home » jangan stress » Wall E – Sebuah terobosan dalam film animasi

Wall E – Sebuah terobosan dalam film animasi

sruput teh hangat

kawan yg baik. blog ini di dedikasikan buat warga legok permai. sebagai proses komunikasi dan informasi jadilah kontributor blog ini jabat hati

Like This

yet another great movie from PIXAR..

Saya tidak pernah kecewa melihat film-film yang diproduksi oleh Pixar, sebut saja Toy Story, A bugs life, Monster Inc, Finding Nemo, the Incredibles, Cars, Ratatouille. Wajar saja jika film-film produksi Pixar langganan masuk box office dan memenangkan penghargaan bergengsi seperti academy award dan golden globe award.

Film ini memang sudah saya nanti-nantikan setelah melihat trailernya pada saat menonton Kungfu Panda. Saat itu saya berpikir, kejutan apalagi yang dibuat oleh Pixar, karena memang cuplikan filmnya yang unik dan agak berbeda dengan film-film pixar sebelumnya.

Nonton di XXI Sumareccon Mal Serpong (tempat favorit nih, weekend 25 ribu, hari biasa cuma 15 ribu!), pas mau beli tiket, mbaknya ngomong “filmnya dah mulai 20 menit, tapi 20 menit sih cuma liat Wall E-nya jalan-jalan doang” katanya. Meskipun sedikit kecewa karena tidak dapat menonton filmnya secara utuh, Saya memutuskan untuk masuk saat itu juga daripada masuk ke jadwal berikutnya yang berarti menunggu 2 jam lagi.

Ceritanya mengisahkan tentang keadaan bumi yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk ditinggali, maka dibuatlah Axiom, sebuah pesawat yang menampung semua manusia dan mengorbit ke luar angkasa. Manusia bisa kembali lagi jika ada tumbuhan yang dapat ditemukan hidup di bumi. Setelah 700 tahun manusia meninggalkan bumi dan hidup di Axiom, diutuslah EVE, sebuah robot perempuan yang mempunyai misi untuk mencari tanaman tsb. Pada saat EVE diutus ke bumi bertemulah ia dengan Wall E, robot yang bertugas mendaur ulang semua sampah yang menumpuk di bumi. Pada saat Wall E melihat EVE ia langsung jatuh hati kepada EVE, meskipun EVE bersikap dingin dan tetap berorientasi pada misinya.

Ikatan emosi yang kuat antara EVE dan WALL E tergambarkan dengan sangat baik di film ini. Meskipun di film ini sangat sedikit sekali dialog yang terjadi (hanya bunyi-bunyian khas robot) namun sarat dengan makna. Coba saja lihat usaha Wall E ketika mencoba untuk membangunkan EVE dari keadaan “mati suri” atau pada saat EVE mencium WALL E pertama kali di luar angkasa dan mereka saling beterbangan, Indah dan mengharukan, saya sampai lupa kalau mereka hanyalah sebuah robot. Teknik pewarnaan film yang tidak lazim, yang didominasi warna sephia, juga menambah kekuatan emosi dari film ini.

Film ini pun memiliki pesan yang sangat baik, berkenaan dengan hangat-hangatnya kampanye “Go Green” karena mulai “panasnya” keadaan di bumi, film ini mengingatkan kita agar lebih concern terhadap lingkungan tempat tinggal kita. Satu lagi pesan yang disampaikan oleh film ini yang tidak kalah hebatnya dan jarang atau tidak pernah disampaikan oleh film animasi sebelumnya adalah masalah “teknologi”. Pada film ini digambarkan manusia yang terlena dan dikuasai oleh teknologi. Manusia 700 tahun setelah tinggal di Axiom digambarkan dengan perawakan yang gendut, mereka sehari-hari hanya duduk di kursi terbang dengan layar virtual yang memudahkan komunikasi satu sama lain tanpa harus berinteraksi secara langsung. Semua kebutuhan mereka terpenuhi hanya dengan memberikan perintah suara, dan komputer akan memenuhinya. Pada keadaan ini manusia mulai tidak menyadari lingkungan sekitarnya dan bersikap anti sosial.

Di film ini sangat terlihat jelas sindiran yang mencoba menyadarkan kita akan pengaruh teknologi ini, lihat saja adegan dimana salah satu warga Axiom jatuh dari kursinya dan ia tidak dapat bangun sendiri tanpa bantuan komputer. Adalagi kejadian dimana dua warga Axiom berinteraksi satu sama lain menggunakan layar virtuil padahal posisi mereka berdampingan, masih banyak adegan lainnya yang menggambarkan hal serupa.

Perawakan warga Axiom

Perawakan warga Axiom

Pesan ini memang cocok dan sesuai dengan keadaan saat ini meskipun di film ini digambarkan secara ekstrim. Lihat saja bagaimana manusia mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, seperti kasus Lapindo, atau anak jaman sekarang yang lebih menyukai main video game seperti Playstation di rumah dibandingkan main dengan teman-teman lainnya di luar menggunakan permainan tradisional seperti gobak sodor, dampu, petak umpet, benteng, dll (beruntung saya masih merasakan masa kecil bermain dengan permainan tradisonal macam ini).

Siapapun pasti merasakan dampak ini, saya sempat berpikir apakah kemajuan teknologi saat ini membawa kita ke arah yang lebih baik ataukan malah mengalami kemunduran?bagaimana menurut anda?

Back to the movies, saya menilai film ini adalah film terbaik sampai saat ini dan membawa film animasi ke tingkat yang lebih tinggi, saya memberikan nilai sempurna untuk film ini. Saya berani bertaruh film ini akan memenangkan banyak penghargaan.
Tontonlah film ini, kalo kecewa nanti duitnya saya kembalikan, hehehe……🙂

Visit me at : http://desmiths.multiply.com/


2 Comments

  1. madyo says:

    waah…..sy juga film animasi..apalagi keluaran pixar….

    kapan nih nonton bareng gratis bersama kak mirza……

    hehehehheheheeee……..

  2. Boleh lah, kapan maen ke tempat saya?gratis kalo di rumah saya mah…heheh
    lagi donlod filmnya lewat internet nih….mudah2an bagus gambarnya.
    btw sori kalo postinganya bikin melar halaman utama website pak mods..hehe

    -cheers-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Data Arsip

%d bloggers like this: