Home » surat Terbuka » Perlukah Program Child Day-Care Bagi Anak Anda?

Perlukah Program Child Day-Care Bagi Anak Anda?

sruput teh hangat

kawan yg baik. blog ini di dedikasikan buat warga legok permai. sebagai proses komunikasi dan informasi jadilah kontributor blog ini jabat hati

Like This

Pandangan para ahli terhadap child day-care

  1. Banyak kritikan yang dilontarkan terhadap program day-care center tersebut dengan dasar, bahwa setiap anak membutuhkan perhatian dan penanganan yang stabil, kontinyu, dan dapat diprediksikan. Menurut pandangan psikoanalisa, kebutuhan akan kasih sayang yang intensif dan stabil hanya diperoleh dalam hubungan antara anak dengan sang ibu/pengasuh utama; dan hal itu dialami dalam setahun pertama kehidupan anak tersebut. Salah seorang ahlinya yaitu Fraiberg (1977) mengemukakan, bahwa dalam day-care center tersebut, setiap anak harus mau tidak mau menerima perhatian yang tidak penuh karena sang pekerjanya harus membagi waktu dan perhatian pada anak-anak yang lain. Belum lagi kalau pada saat pertengahan program, si pekerjanya keluar dari pekerjaan dan digantikan dengan orang baru. Mungkin saja hal ini tidak diperhitungkan oleh orang tua; padahal, bagi anak hal ini menjadi faktor penting karena sejak usia dini sang anak belajar membangun kepercayaan terhadap seseorang sampai hubungan tersebut stabil. Namun jika justru yang dihadapi adalah situasi yang tidak pasti, selalu berubah dan unpredictable, maka akan sulit bagi si anak untuk belajar menumbuhkan rasa percaya dalam dirinya. Tidak heran jika di kemudian hari, ia menerapkan pola pertemanan yang hit and run, atau pun solitaire sebagai antisipasi jika dirinya sewaktu-waktu ditinggalkan dan dikecewakan. Salah satu fakta yang ironi mengungkapkan, bahwa orang tua yang sering terlalu sibuk bekerja enggan atau kurang tertarik untuk memperhatikan masalah-masalah yang dihadapi anak-anak mereka; padahal, sebenarnya anak-anak tersebut sedang benar-benar membutuhkan kasih sayang orang tua. Jadi, jika karena alasan orang tua tidak sempat mendampingi dan memperhatikan anak sehingga dititipkan pada institusi seperti chid day-care center, tetap tidak menyelesaikan masalah, malah menambah kerumitan.

  2. Kagan, seorang psikolog perkembangan melakukan penelitian melalui eksperimen yang dilakukannya sendiri dan menemukan, bahwa ternyata anak-anak yang dititipkan pada day-care center (meskipun sudah ditangani secara intensif oleh orang-orang yang berkompeten, dan dengan rasio perbandingan 1 pengasuh berbanding 3 atau 4 orang anak), memiliki kapasitas intelektual, emosional dan sosial yang tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang diasuh dan dibesarkan semata-mata dalam lingkungan rumah/keluarga (tidak ikut program child-care). Malahan dari penelitian itu ditemukan, bahwa pada usia 29 bulan, anak yang dibesarkan hanya dalam lingkungan rumah, terlihat punya kemampuan adaptasi sosial yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang dibina dalam day-care center.

  3. Bagi orang tua, pemilihan day-care center juga harus menjadi bahan pertimbangan penting karena harus melihat kualitas dari pengasuhan dan failitas yang tersedia. Oleh karena itu, banyak ahli berpandangan memasukkan anak dalam day-care center akan banyak menghabiskan biaya, namun tidak seimbang dengan kualitasnya. Selain itu, sulit menemukan day-care center yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan setiap anak yang punya problem berbeda-beda pada masanya dan yang menuntut penanganan yang spesifik pula.

  4. Faktor kebersihan dan kesehatan lingkungan juga perlu menjadi bahan pertimbangan, karena di situ berkumpul banyak anak-anak yang mungkin saja mempunyai penyakit tertentu yang mudah menular pada anak lain, seperti flu, hepatitis, diare, distentri, dll. Kemungkinan besar, tidak semua pengasuh atau pun pekerja di day-care center tersebut dibekali dengan latihan dan pengetahuan yang memadai tentang kesehatan, kebersihan, penyakit dan penanganannya. Kondisi tersebut masih ditambah lagi dengan pola perilaku anak yang masih tidak karuan dan masih belum bisa diatur. Jadi, dalam child day-care, akan besar kemungkinannya bagi setiap anak untuk terkena atau tertular penyakit.

  5. Penelitian yang dilakukan oleh Laurence D. Steinberg dan Jay Belsky beberapa tahun yang lalu menemukan bahwa ternyata pengalaman atau pun bimbingan yang diberikan selama berlangsungnya day-care, tidak menghambat atau pun mendorong perkembangan intelektual anak. Namun, memang day-care terbukti dapat menolong anak-anak dari golongan ekonomi lemah atau pun lingkungan yang beresiko tinggi dari penurunan IQ akibat dari penanganan/pendidikan yang tidak memadai. Lebih lanjut penemuan mereka juga membawa fakta, bahwa anak-anak yang ikut serta dalam program day-care, akan memperlihatkan peningkatan interaksi, baik dalam bentuk positif maupun negatif dengan teman-teman mereka.

  6. Penelitian yang dilakukan oleh Belsky di tahun 1984 menemukan bahwa bayi yang menghabiskan rata-rata sebanyak 20 jam seminggunya dalam program pengasuhan non-maternal (seperti halnya day-care) selama tahun pertama kehidupannya, beresiko tinggi mengalami insecure attachment terhadap sang ibu dan peningkatan agresivitas, ketidaktaatan, atau bahkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial pada saat mereka memasuki tahap preschool dan sekolah dasar. Namun perlu ditekankan, bahwa situasi demikian tidak berlaku bagi anak yang usianya 1 tahun ke atas. Belsky berpandangan, bagaimana pun juga, preschool yang benar-benar berkualitas memang memberikan kontribusi secara positif pada perkembangan anak.

  7. Salah satu penelitian yang dilakukan di Amerika menampilkan salah satu faktanya, bahwa anak-anak yang diikutsertakan dalam program day care dalam rentang waktu yang cukup lama menunjukkan peningkatan agresivitas terhadap sesama dan terhadap orang dewasa, dan menunjukkan penurunan sikap kooperatif terhadap orang dewasa.

sumber:

http://www.e-psikologi.com/anak/day-care.htm


4 Comments

  1. Meity says:

    Hi..hi..hi…
    Pak Mod kayaknya pengen menjawab pertanyaanku tempo hari neh….
    Iya..iya… memang bener tuh penelitian2 diatas… Aku jg udah bc tuh waktu tempo hari lg surfing beberapa pendapat baik yg negatif dan positif di google. Pengennya seh…. anak tuh diasuh sm orang tua atau pengasuh yg memang bs dipercaya untuk mengasuh anak terutama bila anak masih berusia 1-1,5th. Nah…. Anakku kan udah 2 tahun tuh…. sudah waktunya jg seh dia sekolah playgroup. Sekalian aja yg ada program Day Carenya karena aku udah bosan dengan permasalahan pembantu yang begini dan begitu.
    Program Day care di indonesia memang belum begitu populer dikarenakan banyaknya tenaga pembantu rumah tangga (walau belum dipastikan bagus tidaknya dr segi kualitas). dan jg masih bs meminta bantuan nenek atau saudara.
    eh… jd ajang curhat nih….
    Jadi kesimpulannya, saya sudah menemukan beberapa sekolah play group yang ada program daycarenya dan menurutku cukup baik untuk anakku. Muridnya ada +/- 26 anak, tapi yang dititipkan sampai sore hanya 6-7 anak yang diawasi oleh 4 orang guru dan 1 orang pekerja kasar(PRT).
    Banyak pertimbangan2 yang aku pikirkan selama hampir 2 bulan ini (disamping biaya tentunya), Daripada anakku cm nonton sinetron dan lari2 mengejar kucing…( Noel sk bgt sm kucing), lebih baik energinya diarahkan dengan belajar menggambar dan bersosialisasi dengan anak2 sebayanya, belajar bernyanyi.
    Tentunya sosok orang tua tidak serta merta langsung terima jadi sj, tp tetap mengarahkan dan mengajarkan lg dirumah.
    Jadi…. Para orangtua…. hargailah orangtuamu yaitu ayah dan ibu kita yg sudah membesarkan kita para orangtua2 muda…
    Peace….

  2. Meity says:

    Dear all,

    Hai…
    Saya mau berbagi pengalaman aja nih…
    Setelah komentar saya 1 tahun yg lalu, ingin rasanya membagi pengalaman dengan rekan2 yang mungkin lg browsing tentang Day Care dan “nyangkut” ke blognya Legok Permai.

    Anakku sudah bersekolah di Sekolah + Day care, dan alhamdulilah sudah berjalan hampir 1 tahun.

    Banyak cerita dan pengalaman seru yang saya dapatkan selama hampir 1 tahun ini. And thanks God, 90% adalah pengalaman yang menyenangkan.

    Ternyata Day Care itu tidaklah senegatif pikiran orang2 pada umumnya. Banyak sekali kemajuan2 yang aku rasakan pada perkembangan anakku. Mandiri, pintar mengenal angka dan huruf, bersosialisasi dengan baik, pengertian, belajar mengenal Tuhan, dll.

    I just want to say that,

    Para orang tua yang mengalami dilema seperti saya, please gunakanlah instingmu. Jangan terpengaruhi dengan komentar2 di internet. Bila menurutmu itu yang terbaik, Just Do It!

    Love & Peace..
    Meity & Noel

  3. Shaneisha Alayuna says:

    Hello..saya pendatang baru nih di blog ini, sy tinggal di Legok Permai Block C-1 No. H-8,,,,

    mau ikutan nih share ttg child day care, sebnrnya si perlu banget ya, apalagi untuk pasangan muda yg sama2 bekerja, toh kepentingan anak khan tdk sepenuhnya diserahkan pd day care-nya.
    Hanya saja, ortu juga hrs pinter2 cari day care center yg memang sudah terbukti aman & nyaman utk anak2…

  4. Shaneisha Alayuna says:

    Bu Meity, Noel-nya di play group mana ya?
    tlg info donk, anakku Sha sih msh umur 10 bln, tp ga menutup kemungkinan nanti kl sdh 2 thn jg saya pilih cara seperti Bu Meity..

    thx b4 ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Data Arsip

%d bloggers like this: