Blog Stats

  • 40,473 hits

Web Resmi Legok Permai

Nantikan akan segera hadir Situs Resmi Legok Permai

kabar blog

dear warga legokpermai

per september 2009.blog legok permai ber status under construction

mohon maaf atas segala kekurangan dalam pemuatan konten dan terima kasih sudah luangkan waktu untuk berpartisipasi dalam blog ini.

dan kami ajak anda untuk bergabung di FB forum legok permai group

terimakasih

Perlukah Program Child Day-Care Bagi Anak Anda?

Pandangan para ahli terhadap child day-care

  1. Banyak kritikan yang dilontarkan terhadap program day-care center tersebut dengan dasar, bahwa setiap anak membutuhkan perhatian dan penanganan yang stabil, kontinyu, dan dapat diprediksikan. Menurut pandangan psikoanalisa, kebutuhan akan kasih sayang yang intensif dan stabil hanya diperoleh dalam hubungan antara anak dengan sang ibu/pengasuh utama; dan hal itu dialami dalam setahun pertama kehidupan anak tersebut. Salah seorang ahlinya yaitu Fraiberg (1977) mengemukakan, bahwa dalam day-care center tersebut, setiap anak harus mau tidak mau menerima perhatian yang tidak penuh karena sang pekerjanya harus membagi waktu dan perhatian pada anak-anak yang lain. Belum lagi kalau pada saat pertengahan program, si pekerjanya keluar dari pekerjaan dan digantikan dengan orang baru. Mungkin saja hal ini tidak diperhitungkan oleh orang tua; padahal, bagi anak hal ini menjadi faktor penting karena sejak usia dini sang anak belajar membangun kepercayaan terhadap seseorang sampai hubungan tersebut stabil. Namun jika justru yang dihadapi adalah situasi yang tidak pasti, selalu berubah dan unpredictable, maka akan sulit bagi si anak untuk belajar menumbuhkan rasa percaya dalam dirinya. Tidak heran jika di kemudian hari, ia menerapkan pola pertemanan yang hit and run, atau pun solitaire sebagai antisipasi jika dirinya sewaktu-waktu ditinggalkan dan dikecewakan. Salah satu fakta yang ironi mengungkapkan, bahwa orang tua yang sering terlalu sibuk bekerja enggan atau kurang tertarik untuk memperhatikan masalah-masalah yang dihadapi anak-anak mereka; padahal, sebenarnya anak-anak tersebut sedang benar-benar membutuhkan kasih sayang orang tua. Jadi, jika karena alasan orang tua tidak sempat mendampingi dan memperhatikan anak sehingga dititipkan pada institusi seperti chid day-care center, tetap tidak menyelesaikan masalah, malah menambah kerumitan.

  2. Kagan, seorang psikolog perkembangan melakukan penelitian melalui eksperimen yang dilakukannya sendiri dan menemukan, bahwa ternyata anak-anak yang dititipkan pada day-care center (meskipun sudah ditangani secara intensif oleh orang-orang yang berkompeten, dan dengan rasio perbandingan 1 pengasuh berbanding 3 atau 4 orang anak), memiliki kapasitas intelektual, emosional dan sosial yang tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang diasuh dan dibesarkan semata-mata dalam lingkungan rumah/keluarga (tidak ikut program child-care). Malahan dari penelitian itu ditemukan, bahwa pada usia 29 bulan, anak yang dibesarkan hanya dalam lingkungan rumah, terlihat punya kemampuan adaptasi sosial yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang dibina dalam day-care center.

  3. Bagi orang tua, pemilihan day-care center juga harus menjadi bahan pertimbangan penting karena harus melihat kualitas dari pengasuhan dan failitas yang tersedia. Oleh karena itu, banyak ahli berpandangan memasukkan anak dalam day-care center akan banyak menghabiskan biaya, namun tidak seimbang dengan kualitasnya. Selain itu, sulit menemukan day-care center yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan setiap anak yang punya problem berbeda-beda pada masanya dan yang menuntut penanganan yang spesifik pula.

  4. Faktor kebersihan dan kesehatan lingkungan juga perlu menjadi bahan pertimbangan, karena di situ berkumpul banyak anak-anak yang mungkin saja mempunyai penyakit tertentu yang mudah menular pada anak lain, seperti flu, hepatitis, diare, distentri, dll. Kemungkinan besar, tidak semua pengasuh atau pun pekerja di day-care center tersebut dibekali dengan latihan dan pengetahuan yang memadai tentang kesehatan, kebersihan, penyakit dan penanganannya. Kondisi tersebut masih ditambah lagi dengan pola perilaku anak yang masih tidak karuan dan masih belum bisa diatur. Jadi, dalam child day-care, akan besar kemungkinannya bagi setiap anak untuk terkena atau tertular penyakit.

  5. Penelitian yang dilakukan oleh Laurence D. Steinberg dan Jay Belsky beberapa tahun yang lalu menemukan bahwa ternyata pengalaman atau pun bimbingan yang diberikan selama berlangsungnya day-care, tidak menghambat atau pun mendorong perkembangan intelektual anak. Namun, memang day-care terbukti dapat menolong anak-anak dari golongan ekonomi lemah atau pun lingkungan yang beresiko tinggi dari penurunan IQ akibat dari penanganan/pendidikan yang tidak memadai. Lebih lanjut penemuan mereka juga membawa fakta, bahwa anak-anak yang ikut serta dalam program day-care, akan memperlihatkan peningkatan interaksi, baik dalam bentuk positif maupun negatif dengan teman-teman mereka.

  6. Penelitian yang dilakukan oleh Belsky di tahun 1984 menemukan bahwa bayi yang menghabiskan rata-rata sebanyak 20 jam seminggunya dalam program pengasuhan non-maternal (seperti halnya day-care) selama tahun pertama kehidupannya, beresiko tinggi mengalami insecure attachment terhadap sang ibu dan peningkatan agresivitas, ketidaktaatan, atau bahkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial pada saat mereka memasuki tahap preschool dan sekolah dasar. Namun perlu ditekankan, bahwa situasi demikian tidak berlaku bagi anak yang usianya 1 tahun ke atas. Belsky berpandangan, bagaimana pun juga, preschool yang benar-benar berkualitas memang memberikan kontribusi secara positif pada perkembangan anak.

  7. Salah satu penelitian yang dilakukan di Amerika menampilkan salah satu faktanya, bahwa anak-anak yang diikutsertakan dalam program day care dalam rentang waktu yang cukup lama menunjukkan peningkatan agresivitas terhadap sesama dan terhadap orang dewasa, dan menunjukkan penurunan sikap kooperatif terhadap orang dewasa.

sumber:

http://www.e-psikologi.com/anak/day-care.htm

Apakah Anda dapat mengatasi stres ??

Pernahkah Anda mengalami situasi dimana jantung Anda serasa diketuk-ketuk, tangan basah, sakit kepala atau perut Anda kejang? Jika pernah, mungkin Anda terkena stress. (more…)

Cintai tubuh, Cintai diri sendiri

Kita terobsesi dengan body image. Kita berdiri depan cermin dan menemukan lemak dimana-mana. Kita ingin memiliki perut yang langsing, pinggul yang kecil dan pantat yang berisi. Ini akan membuat kita merasa percaya diri dan tampil seksi. Tetapi  obsesi tidak akan membawa kita ke tubuh yang kita inginkan.

Ini akhirnya tidak akan mendorong untuk melakukan tindakan apapun. Langkah pertama untuk merubah adalah mulai menerima diri sendiri dan mencintainya.Karenanya nikmatilah tubuh Anda dan semua yang telah Anda lakukan untuk itu.

Berikut bagaimana memperlakukan tubuh dengan cinta dan menghargainya:

Berhenti membicarakan lemak. Ketika Anda mulai membicarakan lemak dan makan berlebihan, ini menjadi sulit untuk berhenti dan meninggalkan setiap orang merasa seperti mereka perlu pergi ke tempat senam setelah itu.

Hindari menilai diri di cermin. Cobalah untuk menghindari mempelajari diri sendiri di cermin. Dan jika Anda tengah melakukan yoga atau aerobik, cobalah untuk tidak memfokuskan pada bagaimana penampilan Anda, tetapi bagaimana Anda merasakan.

Pakailah pakaian yang dirasa bisa menambah percaya diri. Bersenang-senang dengan tubuh Anda dengan mengenakan pakaian yang terbaik untuk tubuh. Wanita cenderung mengenakan pakaian yang lebih besar untuk menutupi apa yang mereka miliki.

Berhenti menimbang diri sendiri. Cobalah hindari untuk menimbang diri sendiri untuk sementara waktu dan liat bagaimana Anda merasakan. Anda akan terkejut betapa baiknya Anda merasakan diri sendiri ketika tidak ada jumlah berat dihadapan Anda.

Tubuh adalah teman Anda. Pikirkan segala sesuatu yang tubuh lakukan untuk Anda. Hormati tubuh Anda untuk semuanya, ini artinya untuk Anda sendiri. Jangan merasa kecewa jika Anda merasa anda tidak terlihat cukup baik pada suatu saat.

Berhenti membandingkan diri sendiri.

Olahraga untuk Pencegahan & Penyembuhan Penyakit

Olahraga ternyata bukan hanya monopoli para atlet yang berlomba-lomba mengukir prestasi, juga bukan cuma sekedar cara untuk mempertahankan bentuk tubuh seperti yang banyak dilakukan wanita muda sekarang dengan body language, taebo, dan sebagainya itu.
Dengan proporsi dan pilihan yang tepat—dan tentunya harus dilakukan teratur—olahraga ternyata dapat juga berfungsi mencegah dan membantu proses penyembuhan penyakit. (more…)

Rokok elektronik,..apaan tuh ??

Bicara masalah rokok, sudah pasti akan lebih banyak ruginya, terutama hubungannya dengan masalah kesehatan, mengingat kebiasaan merokok merupakan pemicu terjadinya berbagai penyakit salah satunya adalah penyakit jantung. (more…)